Ini adalah sebuah cerita karya Enid Blyton seorang penulis buku cerita anak berkebangsaan Inggris yang populer. Judulnya "Mari Kita Teruskan". Cerita yang sangat lama tetapi sangat berkesan.
Mari Kita Teruskan
by Enid Blyton
Ibu Susan sangat baik hati. Beliau selalu menolong orang lain yang memerlukan bantuannya. Itulah sebabnya beliau disayangi oleh semua orang. Tetapi, bila ada seseorang yang bertanya, "Apa yang bisa kulakukan untuk membalas budimu?". Maka, jawabnya selalu adalah, "Oh, jangan pikirkan hal itu. Teruskan saja kebaikan yang kau terima itu kepada orang lain!"
"Bu, apa sih maksud Ibu mengatakan supaya orang meneruskan kebaikan kepada orang lain?" tanya Susan pada suatu hari.
"Ibu tak menginginkan orang membayar budi baik Ibu, Susan. Ibu lebih senang kalau orang yang menerima kebaikan Ibu mau berbuat baik kepada orang yang lain. Itu artinya meneruskan kebaikan!"
"Oh, begitu," ucap Susan sambil tersenyum. "Alangkah manisnya! Kita berbuat baik kepada seseorang, lalu menyuruhnya melakukan kebaikan untuk orang yang lain, dan orang lain yang menerima kebaikan itu pun kemudian menyuruh orang lain lagi meneruskan kebaikan kepada orang yang lain lagi. Dengan begitu, kebaikan takkan berhenti. Ia akan diteruskan, diteruskan, dan diteruskan lagi."
"Benar," sahut Ibu. "Gagasan yang manis sekali, bukan? Kalau semua orang begitu, dunia ini tentu akan penuh dengan perbuatan baik."
"Ah, aku mau meniru Ibu," kata Susan. "Nah, Bu --- sekarang berbuatlah suatu kebaikan kepadaku, lalu katakanlah, 'Teruskan kebaikan ini kepada orang lain, Susan!' "
"Baiklah," ucap Ibu. "Akan Ibu jahitkan bonekamu yang sudah rusak hingga ia utuh kembali. Mana bonekanya?"
Susan memberikan bonekanya kepada Ibu, dan Ibu pun segera duduk menjahitnya. Pekerjaan itu tak mudah. Ibu perlu waktu cukup lama untuk memperbaikinya. Tetapi pekerjaan Ibu tak sia-sia. Ketika telah selesai diperbaiki, boneka Susan kembali cantik dan utuh seperti semula.
"Ini, Susan," kata Ibu seraya memberikan kembali boneka Susan.
"Terima kasih Bu,," Susan berkata.
"Jangan berterimakasih kepada Ibu, Nak. Teruskan saja kebaikan yang kau terima ini kepada orang lain," ucap Ibu segera. Maka, sepotong kebaikan pun memulai perjalanannya.
Susan melakukan kebaikan yang dianjurkan Ibunya. Ia bertemu dengan Nyonya Down yang sudah tua, sedang menenteng tas berat sambil berjalan. "Mari kubawakan tas itu, Nyonya Down!" kata Susan sambil mengambil alih tas berat dari tangan perempuan tua itu.
Susan membawakan tas itu sampai ke rumah Nyonya Down. Betapa pegal rasa lengannya. "Terima kasih," ujar Nyonya Down. "Kuberikan kau uang se-penny sebagai tanda terima kasihku atas kebaikan yang kau berikan."
"Terima kasih, Nyonya Down. Tapi, jangan berikan uang itu kepadaku," sahut Susan cepat. "Teruskanlah kebaikanku tadi kepada orang lain."
"Oh, alangkah manisnya," kata Nyonya Down. "Tentu Nak, akan kuteruskan kebaikan yang kuterima ini kepada orang lain!"
Nyonya Down pun menunggu-nunggu kesempatan untuk meneruskan kebaikan itu. Saat yang ditunggu-tunggu tibalah. Tuan Dick lewat di depan rumahnya. Ia berjalan terpincang-picang, karena kakinya sudah tak kuat lagi. Nyonya Down menyapanya. Ditanyakannya ke mana laki-laki tua itu hendak pergi.
"Rotiku tak datang tadi pagi," balas Tuan Dick. "Jadi aku terpaksa berjalan jauh pulang-pergi ke kota untuk mengambilnya. Padahal rematik kakiku sedang kambuh.
"Oh, jangan susah-susah ke kota," ucap Nyonya Down. "Aku berjanji hendak meneruskan suatu kebaikan pada hari ini. Jadi, akan kuberi kau roti yang kauperlukan. Aku masih punya persediaan di lemari makan." Tuan Dick sangat girang. "Jangan ucapkan terima kasih kepadaku," Nyonya Down berkata. "Teruskan saja kebaikan ini kepada orang lain."
Tuan Dick pulang. Ia segera masuk ke dalam rumahnya, dan memotong roti pemberian Nyonya Down serta mengolesinya dengan mentega. Betapa baiknya hati Nyonya Down, pikirnya. Kebaikan semacam itu membuat orang lain merasa senang dan diperhatikan. Bagaimana caranya meneruskan kebaikan itu?
Seorang gadis cilik datang ke rumah Tuan Dick. Wajahnya ketakutan. Gadis itu memang takut pada Tuan Dick, karena Tuan Dick sering marah.
"Maaf, bolaku masuk ke kebun Anda. Bolehkah aku mengambilnya?"
"Tentu, tentu!" ujar Tuan Dick. "Mari kubantu mancarinya. Dan ini, ambillah apel ini untukmu!"
"Oh, terima kasih," ucap si Gadis Cilik sambil tersenyum manis hingga Tuan Dick merasakan kehangatan dalam hatinya. "Anda baik hati sekali, Tuan Dick."
"Dengarkan dulu pesaku sebelum kau pergi, Nak," ujar Tuan Dick. "Kau harus meneruskan kebaikan ini kepada orang lain. Mengerti? Jangan lupa, ya. Kebaikan ini supaya berputar dan tidak berhenti sampai di sini saja."
"Baik, Tuan Dick. Akan kuteruskan," sahut si Gadis. Hatinya senang bisa ikut serta meneruskan kebaikan. Sambil membawa bola dan buah apelnya, ia berlari-lari pulang. Sesampai di rumah terdengar olehnya Ibu mengaggil.
"Katie! Ibu tahu kau ingin bermain. Tapi, Ibu perlu mentega untuk memasak. Mentega kita sudah habis. Maukah kau pergi ke toko membeli sekaleng?"
Katie ingat akan janjinya hendak meneruskan sebuah kebaikan, "Baik, Bu. Aku pergi sekarang," sahutny. Ibunya sangat senang. Beliau bangga akan sikap anak gadisnya.
"Itu namanya anak manis," ibu Katie berkata ketika Katie kembali.
"Bu, teruskan kebaikan ini kepada orang lain," ucap Katie. Lalu Katie menceritakan pengalamannya di rumah Tuan Dick. Ibunya tersenyum.
"Tentu, Katie. Ibu akan meneruskan kebaikanmu," ujar beliau sambil berpikir bagaimana caranya. "Ah, aku tahu sekarang!" pikir beliau. "Aku akan membawaka buku dan puding buat Jack Brown. Ikutlah dengan Ibu, Katie! Biar Jack merasa senang. Kasihan anak itu. Sudah miskin, sakit pula."
"Ini namanya baru kebaikan yang bukan sekedar kebaikan, ya kan, Bu?" ujar Katie, gembira. Katie dan ibunya berangkat, membawa puding dan beberapa buah buku cerita. Betapa girang hati Jack melihat kedatangan mereka. Pudingnya langsung dimakan ketika Katie dan ibunya masih di sana.
"Kalian sangat baik hati," ujar Jack. "Mudah-mudahan aku bisa membalas budi baik kalian kelak."
"Tak usah, Jack," kata Ibu Katie. "Teruskan kebaikan kami kepadamu ini kepada orang lain lagi. Yang kami lakukan ini pun begitu. Meneruskan kebaikan yang kami terima dari orang lain!"
Jack tak henti-hentinya berpikir bagaimana caranya. Tentu saja sulit memikirkanperbuatan baik apa yang bisa dilakukannya ketika ia sedang sakit dan berbaring di tenpat tidur.
Setelah sembuh dan bisa berjalan-jalan seperti biasanya, Jack mencri jalan untuk meneruskan kebaikan yang pernah diterimanya kepada orang lain. Untunglah ia segera menemukan caranya. Ia menemukan sebuah sarung tangan tergeletak di jalan. Rupanya terjatuh dari tangan pemiliknya, karena ia terburu-buru. Dipungutnya benda itu, dan di bagian dalam terbaca sebuah nama. "Oh, kebetulan aku tahu rumahnya!" pikir Jack. "Tapi letaknya jauh dari sini. Ah, demi untuk meneruskan kebaikan yang pernah kuterima, akan kuantarkan juga sarung tangan ini meskipun aku harus berjalan jauh. Sebaiknya aku berangkat sekarang juga. Pasti Nyonya yang memiliki sarung tangan bagus ini senang." Maka pergilah dia. Jack merasa agak lelah, sebab tubuhnya belum sehat benar. Tetapi ia tidak berhenti sebelum sampai ke tempat tujuannya.
"Benar, ini saring tanganku! Oh, betapa senangnya, sarung tangan yang kusayangi ini kembali ke tanganku," ucap si Nyonya. "Kau sangat baik hati, Nak. Apa yang bisa kulakukan untuk membalas jasamu?"
"Oh, tak perlu, Nyonya. Cukup bila Nyonya mau meneruskan kebaikan ini kepada orang lain," sahut Jack. "Hanya itu yang kuinginkan."
Bagaimana caranya, pikir si Nyonya, "Oh, aku tahu!" ujarnya tiba-tiba. "Akan kutulis sebuah cerita untuk anak-anak yang kukenal. Kalau mereka menganggapku baik mau bercerita kepada mereka, maka akan kukatakan kepada mereka, 'Coba teruskan kebaikan ini ---- kebaikan yang dimulai oleh Susan. Usahakan agar kebaikan semacam ini diteruskan dan diteruskan lagi hingga tak pernah berhenti!' "